Rabu, 29 Oktober 2014

Budaya Dasar (3)

Baju Adat Irian Jaya


Pakaian adat pria dan wanita di Papua secara fisik mungkin anda akan berkesimpulan bahwa pakaian tersebut hampir sama bentuknya. Mereka memakai baju dan penutup badan bagian bawah dengan model yang sama. Mereka juga sama-sama memakai hiasan-hiasan yang sama, seperti hiasan kepala berupa burung cendrawasih, gelang, kalung, dan ikat pinggang dari manik-manik, serta rumbai-rumbai pada pergelangan kaki. Bentuk pakaian yang terlukis di sini merupakan ciptaan baru. Biasannya tak lupa dengan tombak/panah dan perisai yang dipegang mempelai laki-laki menambah kesan adat Papua.
Papua adalah sebuah provinsi terluas Indonesia yang terletak di bagian tengah Pulau Papua atau bagian paling timur West New Guinea (Irian Jaya). Belahan timurnya merupakan negara Papua Nugini atau East New Guinea. Burung endemik Tanah PapuaProvinsi Papua dulu mencakup seluruh wilayah Papua bagian barat, sehingga sering disebut sebagai Papua Barat terutama oleh Organisasi Papua Merdeka (OPM), gerakan separatis yang ingin memisahkan diri dari Indonesia dan membentuk negara sendiri. Pada masa pemerintahan kolonial Hindia-Belanda, wilayah ini dikenal sebagai Nugini Belanda (Nederlands Nieuw-Guinea atau Dutch New Guinea). Namanya kemudian diganti menjadi Irian Jaya oleh Soeharto pada saat meresmikan tambang tembaga dan emas Freeport, nama yang tetap digunakan secara resmi hingga tahun 2002. Dan juga Papua mempunyai tarian khas papua yaitu:
Papua Timur Manawou dan Papua Barat Ewer dan Juga lagu khas papua ialah Apuse,Yamko RambeYamko.Ada juga rumah khas di papua yaitu HONAI.








Honai - Rumah Adat Papua

Rumah adat Masyarakat Papua, atau yang biasa disebut dengan Honai.

Honai adalah rumah khas Papua yang dihuni oleh Suku Dani. Rumah Honai terbuat dari kayu dengan atap berbentuk kerucut yang terbuat dari jerami atau ilalang. Honai mempunyai pintu yang kecil dan tidak memiliki jendela. Sebenarnya, struktur Honai dibangun sempit atau kecil dan tidak berjendela bertujuan untuk menahan hawa dingin pegunungan Papua.

Honai terdiri dari 2 lantai yaitu lantai pertama sebagai tempat tidur dan lantai kedua untuk tempat bersantai, makan, dan mengerjakan kerajinan tangan. Karena dibangun 2 lantai, Honai memiliki tinggi kurang lebih 2,5 meter. Pada bagian tengah rumah disiapkan tempat untuk membuat api unggun untuk menghangatkan diri. Rumah Honai terbagi dalam tiga tipe, yaitu untuk kaum laki-laki (disebut Honai), wanita (disebut Ebei), dan kandang babi (disebut Wamai)




Tak banyak orang tahu, bahwa kata ‘Papua’ tidak disukai oleh penduduk asli bumi Cendrawasih tersebut. Mereka lebih suka menyebut negeri mereka dengan nama Nuu Waar.

Nuu Waar adalah dua kata bahasa Irarutu di kerajaan Nama Tota Kaimana, yakni Nuu Eva. Nuu bermakna sinar, pancaran atau cahaya. Sementara Waar dari kata Eva, yang makna pertama adalah ‘mengaku’ atau diterjemahan dengan makna lebih dalam yang artinya ‘menyimpan rahasia’. Dari bahasa Onim (Patipi) Nuu juga adalah cahaya. Waar artinya perut besar yang keluar dari perut Ibu. Maka nama Nuu Waar artinya negeri yang mengaku menyimpan atau memikul rahasia.

Nama Nuu Waar nama yang berkembang dengan siar islam sejak kehadiraan Samudera Pasai, Raden Fatah pada abad 13 M, Aru Palaka sampai Sultan Tidore pada abad 15 M dengan wilayah Kesultanan dan kekuasaan melalui perdagangan sampai ke Nuu Waar.

Pergantikan nama Nuu Waar menjadi Papua dan Irian terjadi sejak 1214 masehi. Kata Papua’ itu sendiri diambil dari beberapa bahasa daerah di Nuu Waar, yang maknanya hitam, keriting, bodoh, jahiliah, jahat, perampok, pemeras, pemerkosa, bahkan lebih sadis dimaknai sebagai suka makan orang.

Makna negatif itulah yang membuat suku asli tidak suka pada kata ‘Papua’. Namun oleh bangsa Portugis kata it uterus dikembangkan, sehingga membentuk opini. Upaya tersebut juga bagian dari politik memecah belah warga setempat. Setelah bangsa Portugis tidak lagi menjajah, nama Papua terus dipopulerkan oleh Belanda.

Selain ‘Papua’, kata ‘Irian’ juga tidak begitu disukai penduduk setempat. Kenapa? Kata ‘Irian’ berasal dari beberapa bahasa daerah di Nuu Waar. Kata Mariiyen dari bahasa Biak artinya bumi yang panas, bahasa Onim (Patipi) dari Tiri Abuan arti ‘Irian’ adalah daratan besar. Kata ‘Irian’ juga berasal dari bahasa Arab: ‘Urryan’.

Lho kenapa Arab bisa masuk ke Irian? Bahwa sesungguhnya Islam lebih dulu masuk ke Nuu Waar. Agama Islam sudah masuk sejak 1214 M dan dibawa oleh Syaikh Iskandar Syah dari Kerajaan Samudera Pasai. Lalu dilanjutkan oleh Raden Fatah pada 1400 M; Aru Pataka dari Bone (1611) dan Sultan Tidore (1816). Barulah pada Februari 1885, Kristen Protestan masuk dan pada16 Maret 1930 masuk Kristen Katholik.

Ketika ulama besar sekaligus pujangga Islam Ibnu Batuta melakukan expedisi keliling dunia dan mendarat di Nuu Waar pada 1517 M, penduduk setempat masih berkoteka. Dari situ keluar nama ‘Urryan’ untuk penduduk di Nuu Waar, yang berarti ‘Negeri orang telanjang’. Namun, sejak masa penjajahan Belanda sampai kemerdekaan, kata ‘Urryan’ (baca: Irian) dipergunakan daripada Nuu Waar. Bahkan ketika Abdul Rahman Wahid (Gus Dur) menjadi Presiden, Irian menjadi Papua yang artinya mengembalikan lagi makna negatif yang tidak disukai oleh penduduk setempat


b1af022531c5b641a9dc5cd1e.jpg



Tidak ada komentar:

Posting Komentar